Zakat yang Membuat Masyarakat Menderita

Share Article : Tweet This FB Share Email Share

oleh cerita anak kost on Saturday, August 11, 2012


Zakat yang Membuat Masyarakat Menderita, Zakat ko malah bikin susah, menderita dan tak jarang menimbulkan korban karena harus mengantri untuk mendapatkannya. Ya seperti itulah yang sering di pertontonkan dan di beritakan di televisi atau media. Ada seseorang yang mampu di daerahnya, kemudian dia membagikan zakat yang diharapkan memberikan berkah tapi malah banyak menimbulkan musibah. Lihat mereka yang ngantri, berdesak-desakan hanya demi selembar uang, belum lagi ada yang terijak, pingsan bahkan sampai tinggal nama.

Zakat yang Membuat Masyarakat Sekarat

Zakat memang wajib di keluarakan bagi orang yang memiliki harta dan telah mencapai nisob (batas untuk pengeluaran zakat), disamping itu pula zakat adalah salah satu rukun islam yang ke 4. Dengan adanya zakat maka noda noda ketika mencari harta dapat di sucikan. Namun yang sering terjadi permasalahan ko sampai menyusahkan orang lain, dan tak jarang menyengsarakan. Lihat cara membaginya, zakatnya di bagikan ke orang yang mengantri dan yang ngantri begitu banyaknya.

Yang namanya mau di bagi uang, siapa si yang ga mau. Orang mampu aja kalau di kasih uang juga mau. Ini yang jadi pertanyaan, bukan kah yang namanya zakat sudah di tentukan siapa siapa yang berhak menerima? Bukan di bagikan kepada yang ngantri. 
Nabi pernah berpesan, barang siapa yang meminta minta sedangkan ia berkecukupan, maka seolah ia memperbesar siksa untuk dirinya sendiri. Lalu sahabat bertanya, ‘siapa yang di maksud mampu (kaya) ya Rosul?’ Jawab beliau ‘Orang yang cukup makan tengah hari dan tengah malam’ 
Jadi, sebuah renungan bagi orang yang mengantri, anda termasuk golongan yang mampu tidak? Atau anda memaksakan diri dalam golongan yang menerima zakat padahal telah jelas ancamannya. Coba kita ingat, siapa aja si sebenarnya yang berhak menerima zakat :
1.    Fakir (orang yang punya harta, tapi tidak mencukupi untuk menutupi kebutuhannya)
2.    Miskin (orang yang tidak punya harta, dan tidak bisa mencukupi kebutuhannya)
3.    Amil (yang mengurusi zakat)
4.    Muaalaf (yang baru masuk islam)
5.    Hamba (budak
6.    Berhutang (orang yang berhutang, tapi hartanya tidak bisa membayarkan hutangnya)
7.    Sabililah (orang yang berjuang di jalan agama)
8.    Musafir (orang yang dalam perjalanan sedang ia kehabisan bekal)
Petanyaan sederhana, apakah yang mengantri termasuk dalam 8 golongan itu? Lalu apa buktinya? Yang namanya orang miskin dan orang yang cukup aja kalau dihadapkan sama saja, tidak kelihatan bedanya. Yang membedakan justru kehidupannya, disinilah peran orang sekitar, sesepuh atau ketua RT setempat.

Kenapa zakat tersebut tidak di buat sistematis dengan membentuk panitia, yang nantinya akan menelusuri atau membagikan langsung ke RT-RT setempat. Lebih tepat sasaran, jauh dari riya (ingin di puji), lebih menghemat waktu dan tenaga, tidak menyengsarakan bahkan mencelakakan orang lain. Kecuali satu hal, si pemberi zakat ingin di kenal orang sehingga merasa tak afdol kalau bukan dia sendiri yang membagikan.

Zakat yang Membuat Masyarakat Sekarat

Coba kita lihat, kalau dia sendiri yang ingin membagikan zakat, apa akibatnya. Di pasuruhan jawa timur (September 2008), 21 orang tewas dan puluhan lain terluka. Tahun sebelumnya, di Jakarta tepatnya pasar minggu, 4 orang tewas dan 3 lainnya dilarikan ke rumah sakit. Dimadura (Agustus 2011), puluhan warga pingsan demi uang 30 ribu. Dan masih banyak lagi, sayangnya saya bukan reporter saya cuma blogger yang tidak memiliki catatan peristiwa di atas. Tapi ini yang menarik kita simak,baru baru ini juga di beritakan di televisi kejadian atas zakat yang memakan korban. Sampai kapan hal ini bisa menjadi pelajaran?

Bulan ramadhan memang buang yang baik untuk beribadah, namun tidak harus membagikan zakat di bulan ramadhan kan? Apalagi dengan mengundang orang orang untuk mengantri, semakin menunjukan inginya di hargai. Bukan kah nabi sendiri mengajarkan agar bersedekah dimana tangan kirinya tidak melihat apa yang di sedekahkan tangan kanannya. Artinya lebih baik bersedekah sembunyi sembunyi dari pada hanya ingin di puji.

Semoga kita bisa mengajak orang lain atau paling tidak diri kita sendiri agar terhindar dari Zakat yang membuat masyarakat menderita.
Fariza Indrianto Cerita Anak Kost Updated at: Saturday, August 11, 2012

{ 52 komentar... read them below or add one }

Asis Sugianto said... Reply Comment

yang membuat saya miris yaitu pembagian zakatnya sobat, banyak dari mereka rela berdesak-desakan hanya demi sebungkus kantong plastik sembako dan seamplot uang Rp. 10.000...
mungkin pembagian sembako/zakat sebaiknya tidak mengumpulkan kaum dhuafa dalam satu tempat, melainkan langsung mengantarkannya ke rumah, hal ini dapat meminimalisir korban dalam pembagian zakat serta bisa menjaga martabat kaum dhuafa...

Djangkaru Bumi said... Reply Comment

kadang ada budaya juga ingin adu pamer atau ada juga yang tidak berhak tapi ikut ngantri. Kalau saya lebih setuju jika zakat itu panitianya datang langsung ke yang berhak biat tidak ada antrian yan begitu sesaknya.

Drieant said... Reply Comment

iya ya, miris juga. hanya demi sedikit uang rela menghabiskan waktu dan tenaga

Drieant said... Reply Comment

iya gan, bukakah lebih baik panitanya yang langsung datang, lebih tepat sasran kan ya.

Benny Dwi said... Reply Comment

mungin bener nih si pemberi zakat ingin di kenal orang sehingga merasa tak afdol kalau bukan dia sendiri yang membagikan, mungkin yah :))

zachflazz said... Reply Comment

potret masyarakat yang lebih suka tangan berada di bawah.
bagi si pengantri maupun pemberi zakat jatuhnya mengarah ke zhalim bukan? padahal jika disalurkan melalui wadah pengelola zakat, pasti lebih efektif. atau kalau mau diberikan langsung, tentukan dulu objeknya, lalu undang ke rumahnya. bukan mengantri mengular yang pasti dari tahun ke tahun selalu membawa korban.

cak oni said... Reply Comment

sungguh tragis ya gan . .mula"mau dapet pahala malah jatuh korban

Ahmad Suwito said... Reply Comment

lain kali dibagikan via post aja.. hehe..

Mohamad Rivai said... Reply Comment

knapa nggak di anterin aja atu2 ke rumahnya masing2 ya om?

Bung Penho said... Reply Comment

Inilah sebagian dari yang gue maksudkan dalam tulisan terbaru tentang kemerdekaan yang hakiki sobat!
gue setuju dg komentar pertama tulisan ini, mending diantar kerumah2 aza biar gak terjadi hal seperti ini.

Web Awang said... Reply Comment

Desain blognya bagus banget gan . Sukses terus ya :D

Hzndi said... Reply Comment

benar itu gan, ane juga kurang setuju, seandainya di kelola lebih baiik, mugkin ga menimbulkan korban jika panitia menyiapkan tempat, keamanan serta mendata si penerima zakat. Kenyataannya kan penerima zakatnya yang membludak, tempatnya sempitlah dll.

Reo Adam said... Reply Comment

Siang Boss...
klu menurut saya dalam pembagian zakat itu system-nya yg kurang bijak.
jika bijak panitia/petugas pembagi zakat...tentu akan memikirkan dampak negatif&positif-nya sebelum bartindak.
jadi ga perlu lah ada korban dalam pembagian zakat itu.
semoga dengan posting yg anda share....orang akan lebih bijak untuk menyikapi sesuatu hal

Muro'i El-Barezy said... Reply Comment

bener gan sebaiknya ada panitia yang datang langsung untuk membagikan zakat kepada yang berhak,

Planet Pengetahuan said... Reply Comment

hihihihi udah mau lebaran nih, zakatnya jangan lupa

Gopar said... Reply Comment

wah di persiapkan untuk zakat ne gan

emmethe said... Reply Comment

wah ini salah satu prangkap setan gan (sotoy gw) loh kan kalo niat memberi ya memberi aja bukan kepingin dikenal banyak orang ,bahkan itukan dilarang sama agama.. betul gan rosululloh juga mengajarkan seperti itu,yang memberi tangan kanan dan tanpa diketahui oleh tangan kiri,,,
iya ya gan yang ngantri belum tentu golongan yang sah untuk menerima zakat... apakah ini terkait dengan kemiskinan di negri ini bisa terjadi seperti itu...
jadi prihatin , semoga pembagian zakat di bulan ramadhan sekarang Jangan salah kaprah lagi dan semoga menjadi lebih baik lagi.. untuk kesejahteraan umat islam terutama dan negara indonesia ...
aamiin...

Drieant said... Reply Comment

heieiie. ingin terkenal kali ya gan, bner juga :D

Drieant said... Reply Comment

iya ya gan. ehm, semuanya salah jadinya.

wongcrewchild said... Reply Comment

memberi tanpa pamrih dan tanpa mudharat mestinya sob
sprtinya jadi dilema, disatu sisi kewajiban, sedang yang lain mmbutuhkan, padahal sdah ada lembaga yg mnangani, ttpi kyaknya kurang diminati

Isnan Nugrah Lastiko said... Reply Comment

pusing kalo ga ada pengurus yg bener2 peduli..

berantakan dan runyemmmm selalu..

yusrandante said... Reply Comment

membagikan zakat memang perbuatan yang sangat terpuji, apalagi di bulan ramadhan ini.. pasti pahalanya berlipat ganda...........

tapi bagaimana jika memberikan zakat dengan cara megumpulkan warga di depan rumah untuk antri menerima zakat,..??? saya setuju dengan mas admin... itu hanyalah dorongan rasa riya, rasa ingin di puji....

moral sebagian orang di indonesia emang masih di bawah stadar, semoga kita tidak termasuk di dalamnya...

zachflazz said... Reply Comment

miris ya denger berita gitu. sedemikiankah keadaan masyarakat indonesia? kemiskinan yang memilukan?

kocu ogebz said... Reply Comment

saya juga bingung padahal zakat yg diberikan gak bisa mencukupi untuk kebutuhan hari raya tp mereka berjuang berebut mendapatkan zakat. padahal sudah jelas bagi yang mampu membagikan sebagian hartanya kepada yg membutuhkan dgn cara mengantarkan ke tempat secara lngsung bukan membagikan nomer antrian. saya membaca artikel ini sangat miris krn org yg berbagi dgn cara ini bukan untuk beramal tp sengaja untuk menyiksa org lain dan pastinya dia akan tertawa begitu menariknya org2 kecil berebut harta yg tdk ada nilainya. ini merupakan ciri org sombong yg ingin menunjukan harta kekayaan kepada org banyak.

Andri Carly said... Reply Comment

Betul sekali sob ,saya pun jadi prihatin jika ada pembagian zakat yang menimbulkan korban,,,perlu perencanaan yang matang dan mengikutsertakan pihak lain jika ingin berbagi zakat dalam jumlah besar,,,agar tidak timbul korban

Unlimit -Soft said... Reply Comment

kaga usah dibicarain lagi dah.. udah sering kejadian.. :D
mestinya provider yg baginya pake cara yang safe lah..

Kini Aku Tau said... Reply Comment

wahh judulnya agak kontroversi menjelekkan Islam gan...'

hmm iya menurut ane yang ngasih zakat selama ini juga bnyak yang mengharapkan nama nya lebih dikenal di Masyarakat.

Drieant said... Reply Comment

iya ya. seolah jadi potret ya.. kemiskinan kita yang belum juga teratasi :D

Drieant said... Reply Comment

iya gan, jadi gitu ya ujung ujungnya :D

Drieant said... Reply Comment

iya gan, itu lebih bagus sepertinya

Drieant said... Reply Comment

itu dia pertanyaan utamanya gan, kenapa ga kaya gitu ya?

Drieant said... Reply Comment

wah bukan ane yang desain. ada orang lain. ane cuma ngedit, ok gan :D

Drieant said... Reply Comment

iya gan, namanya di bagi uang siapa yang ga mau. jadinya membeludak lah di tempat penerimanya, kalau di kasih langsung kan jelas orang orangnya. ya ga gan? lagi urangnya juga ga sebanding dengan ngantrinya kan?

Drieant said... Reply Comment

iya gan, ane cuma membaagi pengeetahuan dan mengingatkan. supaya jangan terjadi hal hal yang demikian lagi, kasihan aja dah. tenkyu gan :D

Drieant said... Reply Comment

ya stuju gan, tenkyu dukungannya :D

Drieant said... Reply Comment

iya gan, ini menjadi salah kaprah ya jadinya. semoga aja gan, semoga pemikiran orang yang berzakat lebih maju sehigga bisa makmur negara ini :D

Drieant said... Reply Comment

iya ya. dilema. satu sisi kewajiban karena sudah nisob, ada juga yang membutuhkan. tapi kenapa tidak mengunakan perantara akhirnya sampe jadi jatuh korban :D

budi os 19 said... Reply Comment

prihatin bgt ya.. sob.. :)

Drieant said... Reply Comment

iya ya. setujue dengan ente, emang jadi tambah runyem. tapi paling tidak saya mengingatkan gan :D

Drieant said... Reply Comment

iya gan, semoga kita ga termasuk di dalamnya, kan masih bisa sembunyi sembunyi atau di bagi langsung ke orangnya ya gan :D

Drieant said... Reply Comment

ehm, iya juga gan. bener komentar ente, ada tanda tanda orang sombong juga ya. jadi merendahkan si miskin dan merasa di butuhkan ya gan. kasihan ya kalau seperti ini terus.. makasih ud memberi pendapat ente gan :D

Drieant said... Reply Comment

iya gan, karena dalam jumlah besar rawah sekali akan timbul korban.

Drieant said... Reply Comment

wah stuju gan, cara baru ya . harusnya lewat profider seperti pulsa aja kali ya. hahaha. bisa aja ente

Drieant said... Reply Comment

ou gitu ya gan, ehm.. ane baru nyadar. iya juga judulnya kontro fersi, tapi untuk menarik minat aja si sebenarnya. isinya kan sesuaikan gan, ga kontrofersi kan isinya? :D

Drieant said... Reply Comment

iya gan :D

Arriyadh Prayugo said... Reply Comment

Miris... hanya karena menerima zakat yang nilainya (mungkin) tidak lebih dari Rp. 50.000. Orang2 rela antre berdesakan sampai bertaruh nyawa. Bukti betapa miskinnya bangsaku ini :'(

Zaenudin Saja said... Reply Comment

benar sekali sob, saya juga berpendapat sama. lagi pula pembagian zakat dengan cara mengundang masyarakat untuk mengantri selain mengundang kesengsaraan juga secara tidak langsung berniat RIA

Muhammad Hanif said... Reply Comment

Wah, kalau di tempatku masih lancar kok. Soalnya masih tergolong desa. Jadi kalau masalah begini enggak terlalu diributkan.

Fikri said... Reply Comment

Mantap sob pembahasan singkat dan mengena...

dari yang berzakat ataupun penerima :)

Drieant said... Reply Comment

iya gan, saya hanya bisa saling mengingatkan apa yang perlu. semoga aja mereka bisa sadar dan tidak mengulangi lagi :D, makasih ya gan :D

Drieant said... Reply Comment

iya gan, potensial banget tu kena RIA. :D

Drieant said... Reply Comment

iya ya, ga sebanding dengan energi yang di keluarkan serta yang di dapatkan. ko masih mau maunya berdesak desakan. ane yakin yang berdesakan pun dia masih orang yang punya :D

Post a Comment