Anak Jalanan

Share Article : Tweet This FB Share Email Share

oleh cerita anak kost on Friday, July 13, 2012

Artikel Terbaru
Anak Jalanan sering kita temui di berbagai sudut kota dan tingkah polahnya bermacam macam, ada yang ngamen, ada yang meminta minta dan bahkan tak jarang yang memaksa. Keberadaan anak jalanan pada dasarnya tidak menggangu, dia hanya seseorang yang memiliki nasib yang kurang beruntung sehingga hidup di jalanan. Kadang kita pun merasa iba dengannya dan tak sedikit pula dari kita yang memberinya uang agar ia dapat menyambung hidup ketika mereka memintanya. Namun rasa iba tersebut kadang kala sering di manfaatkan oknum tertentu yang memang secara terstruktur mengambil untung dari rasa iba masyarakat kita.

Anak Jalanan, cerita anak jalanan, pengemis, gelandangan, pemanfaatan anak,
Hanya ilustrasi, gambar dari google
Kejadian yang baru baru saya temui di kota semarang, karena saya masih dalam liburan (hehehe). Saya berangkat dari tembalang (tempat kost adik saya) ke arah kampus, hanya sekedar menikmati hangatnya ronde di tengah dinginya malam. Waktu itu tidak terlalu larut, mungkin sekitar pukul 8 malam. Setelah kami semua mengambil posisi, kita duduk prasmanan di sebelah pom bensin karena memang pedagang rondenya berada di sana. Hanya dengan sehelai tikar yang kita gelar, kita menikmati ronde sambil ngobrol seperti biasanya. Lalu tak lama kemudian, datang seekor nyamuk (ups keliru), datang seorang gadis kecil yang berpakaian tidak terlalu compang camping. Kami tidak tau ia siapa namun tiba tiba ia datang dan langsung nodong untuk minta uang.

Di sinilah letak kegajalannya, kenapa ia tidak memintanya dengan sopan, melainkan dengan gaya yang seolah olah memaksa dan tanpa basa basi. Ia datang dan tak banyak bicara langsung menegadahkan tangganya sambil berdiri dan meminta uang. Kami pikir, ko bisa ya ada anak kecil di jam segitu di biarkan bebas, apa tidak takut di culik? apa tidak memiliki orang tua atau jangan jangan sudah di rencana. Soalnya, kalau memang anak segitu butuh uang, buat apa? umurnya masih sekitar 7 tahun, ngapain dengan uang? paling untuk membeli makan, pikir kita. Lalu kita tawarkan makan sekalian aja, "saya belikan makan ya" kata salah seorang dari kami, "ud makan belum". Dia menjawab dengan bahasa tubuhnya, dan sedikit malu malu dan bermalas malasan, sepertinya ia hanya mau uang. "Gimana kalau tak beliin ronde" kata salah satu dari kami kembali. Dan ia tetap meminta uang. Pertanyaan sederhananya, kenapa ia tetap kekeh meminta uang? padahal umur segitu (biasanya) belum mengerti apa apa tentang uang.
Anak Jalanan, cerita anak jalanan, pengemis, gelandangan, pemanfaatan anak,
Gambaranya tidak terlalu jelas, di ambil malam hari tanpa flash
Lalu tak lama kami pun memberikan uang, dan ternyata ia menerimanya pun tanpa tedeng aling aling dan yang parahnya lagi, ternyata ia tidak memiliki etika untuk sekedar mengucapkan trimakasih atau apa. Dari sini kami mulai muncul pertanyaan, "biasanya anak seperti ini telah di dokrin", pasti di sebelahnya ada mucikarinya (ups ko mucikari, klo mucikari berarti kupu kupu malam dong, hahah). Maksudnya ada bosnya. Kami berusaha untuk mengajaknya bicara, namun ia diam tanpa kata, hanya geleng kepala dan main seadanya khas anak kecil. Kalau kami kasih, uang itu pasti bukan untuknya (pikir kami), pasti ada dalang di belakangnya. Kalau tidak kami kasih, kami takut anak itu juga yang nantinya di pukul oleh bosnya.

Anak jalanan memang menjadi dilema, kalau kalian pernah melihat grombolan anak punk, yang juga mangkal di jalan. Ketika memberi uang, mungkin kalian pun bertanya, ini uangnya untuk apa nie? lihat dandananya saja sudah tidak jelas, di tambah caranya meminta yang terkesan maksa. bagaimana tidak, ia meminta tanpa usaha, hanya bermodal tanggan dan nyanyian yang ga ada lirik apalagi berbau musik. Belum lagi tempat mereka meminta adalah di angkot, dimana kita tau angkot itu sempit, bisa saja ia mengamuk atau bagaimana dan kita pula yang kena imbasnya.

Anak Jalanan, cerita anak jalanan, pengemis, gelandangan, pemanfaatan anak, anak punk, anak punk bikin ulah, anak punk resek
Hanya ilustrasi, gambar dari punk in love

Sebenarnya apa si kerjaan mereka (si anak punk) itu? atau kerjaannya ya hanya meminta minta? apa ga punya kehidupan. tampil ga karuan, hidup belangsakan, kerjanya maksain orang. saya ga habis pikir, apa mereka mau selamanya seperti itu terus? meresahkan masyarakat dan hanya merusak pemandangan kota. Kalau alasan citra diri, ok kalau di luar negri, orangnya rapih rapih sekalipun tampilan punk. Tapi di sini, anak punk hanya sebagai gembel yang sering meresahkan masyarakat.

Kadang satu sisi, saya malas untuk memberi, bukanya tidak ada uang. Namun rasa iba masyarakat kita lah yang menyebabkan mereka tumbuh besar, semakin banyak dari waktu ke waktu. Bahkan saya pernah membaca pula, ada pengemis yang kaya hanya dari meminta minta di jalanan. Sumbernya warta kota kalau tidak salah, yang mewawancarai seorang pengemis di perempatan coca cola cempaka putih. Seperti ini kurang lebih intisarinya 'pengemis itu bekerja dari jam 7.00 sd 17.00, rata2 lampu merah dan hijau menyala 60 detik, jadi dalam 1 jam lampu merah menyala 30kali, setiap kali lampu merah menyala ia mendapatkan uang rata2 Rp.2000, jadi jika di hitung dalam 1 jam pendapatan ny Rp.60.000, di kali satu hari kerja 10 jam pendapatan Rp.600.000, jadi dalam 1 bulan pendapatan Rp.18 juta.'

Ada satu kisah pula, dari adik yang pernah menemukan seorang anak kecil yang masuk ke kampus. Anak jalanan ini (mungkin sekitar 6 tahunan) tiba tiba membagikan amplop ke mahasiswa yang sedang duduk duduk di teras, memang sengaja meminta agar uangnya di taruh di dalam amplop. Dan setelah selesai, si anak ternyata membuka amplopnya yang berisi uang di sebelah adik saya. Kontan dia kaget, tapi ya mungkin namanya anak anak tidak tau apa apa. Lalu adik saya menanyakan, dapet berapa hari ini? dengan gayanya yang masih belum lancar berbicara, dia bilang '500 mas, lagi sepi ni mas' tambah kaget lagi adik saya. Di tanya kemudian 'emang bisanya dapet berapa?' bisanya '1 juta'. Wah lumayan juga omsetnya, cuma kerja ngiderin amplop dan berbekal belas kasihan bisa dapet sejuta. Ada yang kepengin?

Kembali lagi ke pertanyaan mendasar? untuk apa anak jalanan ini mencari duit segitu banyaknya? emang ud tau duit? mau beli apa dia. kami pikir pasti ada dalang di balik semuanya, yang telah mem-brainwash pikiranya sehingga yang dia tau hanya mengumpulkan uang. Selebihnya, dia tidak tau uang itu untuk apa dan bagaimana. Tugasnya hanya mengumpulkan.

Sepertinya kita harus lebih selektif dalam memberi uang, kalau bisa malah jangan memberi. Mending berikan makana atau sesuatu yang berbentuk barang. Dengan demikian kita bisa mengendalikan pertubuhan mereka, ya itu si harapan saya.

drieant Cerita Anak Kost Updated at: Friday, July 13, 2012