Kenapa Sih Kita Harus Memaafkan Orang Lain?

Share Article : Tweet This FB Share Email Share

oleh cerita anak kost on Sunday, July 27, 2014

Kenapa kita harus memaafkan orang, padahal orang yang telah menyakiti kita. Pernah merasakan seperti itu? mempertanyakan kenapa kita harus memaafkan? pahal jelas jelas orang lain sudah berbuat salah. Semua pernyataan itu padadasarnya tidaklah salah, karena kita berada sebagai orang yang di salahkan. Disamping itu, memaafkan bukanlah hal yang mudah. Jauh lebih sulit memberi maaf, daripada meminta maaf. Tapi jauh lebih mulia memaafkan, daripada meminta maaf.

Kenapa Sih Kita Harus Memaafkan Orang Lain

Kenapa kita tidak mau memberi maaf?

Biasanya si karena sakit di hati, dan sakit hati itu memang menyakitkan, saya tau itu rasanya. 'Bagaimana harga diri kita di injak, kita tidak bersalah tapi justru di marahi.
'Kita tidak tau apa apa, tapi di salahkan.
'Kekasih yang kita cintai dan kita bela mati matian, justru ia pergi.
Dan mungkin saat itu anda berkata :
“Saya tidak akan memaafkannya “
Ya, itulah yang wajar dan kebanyakan di lakukan orang. Tidak lagi memaafkan, karena kesalahan yang orang lain perbuat. Dan itu sah sah saja, anda berhak ko mengatakan hal di atas.

Hati kita itu seperti sebuah tembok yang bersih. Ketika orang lain melukai kita, ketika ia salah, ia telah menancapkan sebuah paku kedalamnya. Pakunya mungkin dapat di cabut, tapi lukanya akan tetap ada. Rasa sakitnya akan selalu membekas di dada.

Sakit hati, itu wajar karena kita manusia, kita punya perasaan dan harga diri. Kalau ada yang menyinggungnya, tentu kita akan sakit. Tapi terkadang, yang namanya hati itu pula tidak ada tolak ukurnya. Setiap orang punya standar berbeda untuk kata "salah", bisa jadi menurut orang lain benar, menurut kita salah. Bisa jadi pula, hati kita yang terlalu sensitif, terlalu peka menilai kesalahan orang lain. Padahal kita tidak bisa memaksakan orang untuk mengerti hati kita?

Kalau kita menganggap oran lain bersalah. Pada dasarnya justru kita sendirilah yang telah menanamkan penyakit pada diri kita sendiri, pada hati kita. Dia ko ga seperti ini, ga seperti itu.. ga seperti apa yang kita mau. Kita akan dongkol, kita akan tersinggung, kita akan marah, dan akhirnya tidak mau untuk memaafkan.

Logikanya seperti ini, kalau kita belum bisa memaafkan orang lain, biasanya setiap sesuatu yang berhubungan dengan 'ia', kita akan teringat apa yang ia lakukan. Dengan demikian, kita akan mulai sakit hati. Padahal yang namanya hati, bukan nama kedokteran, hati itu sebutan untuk jantung kita. Kalau terus terusan kita sakit hati, artinya jantung kita pun terpengaruh, ia menjadi tertekan.

Semakin lama sakit hati itu di pendam, bisa jadi itu jadi dendam. Yang artinya, semakin besar tekanan di dalam jantung kita. Makanya beberapa penelitian di public hearty institute di California menyebutkan kalau :
Permusuhan dan dendan akan merusak kekebalan tubuh anda dengan meningkatnya resiko jantung, kanker dan diabetes.

Lalu solusinya apa supaya tidak memaafkan?

Solusi paling logis ketika orang lain bersalah, kita akan membalas tindakan yang ia perbuat.
Bisa jadi anda menang, anda berhasil mempermalukan orang lain dengan membalasnya. Tapi apakah dengan itu masalah jadi selesai?

Tidak, bisa jadi justru kali ini anda di posisi bersalah. Belum lagi, kalau ia membalasnya, akhirnya anda saling membalas. Dan tidak akan pernah selesai. Yang lebih parah, kalau ia tidak terima dan akhirnya bermain cara yang di luar akal sehat, siapa yang akan rugi?

Anda percaya karma?
Bisa jadi, anda berhasil membalasnya, dan ia tidak membalas kembali kepada anda. Tapi, balasanya bisa saja justru terkena ke anak atau sodara kita. Itu akan lebih menyakitkan seandainya kita tau.

Jadi, membalas bukanlah suatu solusi untuk tidak memaafkan.


Lalu apa yang bisa membuat kita memaafkan orang lain?

Kita tau, kalau di dunia ini tidak ada yang sempurna. Begitu juga oranglain. Dengan memaafkannya, kita telah membuang rasa sakit pada diri kita sendiri. Karena kita tidak bisa selamanya memaksakan orang untuk sesuai dengan perasaan kita. Sama halnya ketika anda ingin pergi kencan, lalu tiba tiba hujan. Apakah anda tidak akan memaafkan cuaca? padahal kita tidak bisa mengendalikan cuaca. jadi rasa bersalah dan menyalahkan, kita yang menciptakannya sendiri. Maka kita lah yang membuat sakit diri kita sendiri.
Biarlah rasa sakit itu pergi dengan memaafkannya. 
Lagi pula, buat apa kita memikirkan kesalahan orang lain kepada kita yang membuat kita tidak bisa memaafkannya. padahal belum tentu ia memikirkannya. pada saat anda memikirkan orang lain yang tidak kunjung meminta maaf, anda tertekan. Pada saat yang sama, mungkin sudah melupakannya. Jadi anda sendirilah yang rugi.

Tindakan preventive boleh, tapi jangan berlebih lebihan sampai tidak memaafkan orang lain. Belajarlah untuk lapang dada, belajarlah untuk melupakannya, belajarlah untuk memaafkannya.

drieant Cerita Anak Kost Updated at: Sunday, July 27, 2014

{ 7 komentar... read them below or add one }

Bung Penho said... Reply Comment

thank untuk pencerahannya kawan!

Purnomo Jr said... Reply Comment

@Bung Penho:
saya juga sepakat buat pencerahannya :)

agus bg said... Reply Comment

buat pencerahannya saya sepakat juga :D

Asep Haryono said... Reply Comment

Kami sekeluarga di Pontianak, Kalimantan Barat mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1435 Hijriah buat mas dan mba sekeluarga

Juga ucapan seruppa ditujukann buat semua Sahabat Blogger di seluruh Indonesia dan di luar negeri serta di mana saja berada.

Minal Aidzin WalFaidzin
Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Dari :
Asep Haryono
Rudi Maryati
Abbie Muhammad Furqan Haryono
Tazkia Montessori Putri Haryono

Ocha Rhoshandha said... Reply Comment

Jika saya ditanya "kenapa harus memaafkan orang lain?"
Saya akan menjawab... "karena Tuhan Maha Pemaaf.. dan memaafkan itu indah (meski sakitnya nusuk banget)

Salam lebaran dari Lumajang..
Mohon maaf atas kata-kata maupun komentar yang menyinggung perasaan njenengan.. saya hanya insan biasa yang tak luput dari salah..
Taqabbalallhu minna wa minkum wa ja'alanallahu minal 'aidin wal faizin

Purnomo Jr said... Reply Comment

Ufuk Ramadhan mulai memudar, Cahaya Syawal kian memancar, Dosa dan Khilaf saatnya dibakar, Marah dan Dendam saatnya dikubur. Kadang hati berburuk sangka, Langkah membekas lara, Tutur kata tidak terjaga, Tingkah laku membawa luka. Andai tangan tak dapat berjabat, Setidaknya kata masih terucap : "Selamat IDUL FITRI 1435H, Minal Aydin Walfaidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin ya bang :)

Irham Sya'roni said... Reply Comment

Mumpung masih nuansa lebaran, kami sampaikan minal aidin walfaizin, mohon maaf lahir dan batin, Mas.

Post a Comment