![]() |
Hanya ilustrasi, gambar dari google |
Di sinilah letak kegajalannya, kenapa ia tidak memintanya dengan sopan, melainkan dengan gaya yang seolah olah memaksa dan tanpa basa basi. Ia datang dan tak banyak bicara langsung menegadahkan tangganya sambil berdiri dan meminta uang. Kami pikir, ko bisa ya ada anak kecil di jam segitu di biarkan bebas, apa tidak takut di culik? apa tidak memiliki orang tua atau jangan jangan sudah di rencana. Soalnya, kalau memang anak segitu butuh uang, buat apa? umurnya masih sekitar 7 tahun, ngapain dengan uang? paling untuk membeli makan, pikir kita. Lalu kita tawarkan makan sekalian aja, "saya belikan makan ya" kata salah seorang dari kami, "ud makan belum". Dia menjawab dengan bahasa tubuhnya, dan sedikit malu malu dan bermalas malasan, sepertinya ia hanya mau uang. "Gimana kalau tak beliin ronde" kata salah satu dari kami kembali. Dan ia tetap meminta uang. Pertanyaan sederhananya, kenapa ia tetap kekeh meminta uang? padahal umur segitu (biasanya) belum mengerti apa apa tentang uang.
![]() |
Gambaranya tidak terlalu jelas, di ambil malam hari tanpa flash |
Anak jalanan memang menjadi dilema, kalau kalian pernah melihat grombolan anak punk, yang juga mangkal di jalan. Ketika memberi uang, mungkin kalian pun bertanya, ini uangnya untuk apa nie? lihat dandananya saja sudah tidak jelas, di tambah caranya meminta yang terkesan maksa. bagaimana tidak, ia meminta tanpa usaha, hanya bermodal tanggan dan nyanyian yang ga ada lirik apalagi berbau musik. Belum lagi tempat mereka meminta adalah di angkot, dimana kita tau angkot itu sempit, bisa saja ia mengamuk atau bagaimana dan kita pula yang kena imbasnya.
![]() |
Hanya ilustrasi, gambar dari punk in love |
Sebenarnya apa si kerjaan mereka (si anak punk) itu? atau kerjaannya ya hanya meminta minta? apa ga punya kehidupan. tampil ga karuan, hidup belangsakan, kerjanya maksain orang. saya ga habis pikir, apa mereka mau selamanya seperti itu terus? meresahkan masyarakat dan hanya merusak pemandangan kota. Kalau alasan citra diri, ok kalau di luar negri, orangnya rapih rapih sekalipun tampilan punk. Tapi di sini, anak punk hanya sebagai gembel yang sering meresahkan masyarakat.
Kadang satu sisi, saya malas untuk memberi, bukanya tidak ada uang. Namun rasa iba masyarakat kita lah yang menyebabkan mereka tumbuh besar, semakin banyak dari waktu ke waktu. Bahkan saya pernah membaca pula, ada pengemis yang kaya hanya dari meminta minta di jalanan. Sumbernya warta kota kalau tidak salah, yang mewawancarai seorang pengemis di perempatan coca cola cempaka putih. Seperti ini kurang lebih intisarinya 'pengemis itu bekerja dari jam 7.00 sd 17.00, rata2 lampu merah dan hijau menyala 60 detik, jadi dalam 1 jam lampu merah menyala 30kali, setiap kali lampu merah menyala ia mendapatkan uang rata2 Rp.2000, jadi jika di hitung dalam 1 jam pendapatan ny Rp.60.000, di kali satu hari kerja 10 jam pendapatan Rp.600.000, jadi dalam 1 bulan pendapatan Rp.18 juta.'
Ada satu kisah pula, dari adik yang pernah menemukan seorang anak kecil yang masuk ke kampus. Anak jalanan ini (mungkin sekitar 6 tahunan) tiba tiba membagikan amplop ke mahasiswa yang sedang duduk duduk di teras, memang sengaja meminta agar uangnya di taruh di dalam amplop. Dan setelah selesai, si anak ternyata membuka amplopnya yang berisi uang di sebelah adik saya. Kontan dia kaget, tapi ya mungkin namanya anak anak tidak tau apa apa. Lalu adik saya menanyakan, dapet berapa hari ini? dengan gayanya yang masih belum lancar berbicara, dia bilang '500 mas, lagi sepi ni mas' tambah kaget lagi adik saya. Di tanya kemudian 'emang bisanya dapet berapa?' bisanya '1 juta'. Wah lumayan juga omsetnya, cuma kerja ngiderin amplop dan berbekal belas kasihan bisa dapet sejuta. Ada yang kepengin?
Kembali lagi ke pertanyaan mendasar? untuk apa anak jalanan ini mencari duit segitu banyaknya? emang ud tau duit? mau beli apa dia. kami pikir pasti ada dalang di balik semuanya, yang telah mem-brainwash pikiranya sehingga yang dia tau hanya mengumpulkan uang. Selebihnya, dia tidak tau uang itu untuk apa dan bagaimana. Tugasnya hanya mengumpulkan.
Sepertinya kita harus lebih selektif dalam memberi uang, kalau bisa malah jangan memberi. Mending berikan makana atau sesuatu yang berbentuk barang. Dengan demikian kita bisa mengendalikan pertubuhan mereka, ya itu si harapan saya.