Suatu ketika, di depan rumah jono ada seorang tukan bakso yang lewat. Merasa lapar, jono kemudian memanggil tukang bakso tersebut.
“Bang bang, bakso bang.. “ pangil jono kepada tukang bakso.

Tak lama kemudian, tukang bakso tersebut kemudian menghampiri rumah jono untuk memarkir grobaknya, lalu ia mempersiapkan semangkuk bakso yang kemudian ia mulai meracik satu persatu bahan seperti yang sudah ia lakukan lebih dari 17 tahun yang lalu.
Singkat cerita, si jono telah menghabiskan semangkuk baksonya. Sekarang giliran ia menunaikan kewajibannya, ia melangkah untuk mengantarkan piring bakso tersebut ke tukang bakso yang masih menunggu di depan rumahnya.
Sembari mengeluarkan uang duapuluh limapuluh ribu rupiah dari dompetnya, jono membayarkan uang tersebut kepada tukang bakso.
Kemudian abang bakso menerima uang tersebut, setelah itu meletakan mangkuk yang ia terima di tempat pencucian. Lalu ia mengeluarkan dompet untuk mengambil kembalian dari uang yang ia terimanya.
Sambil memilah milah uang, sebelum ia mengembalikan uang ke jono ia telebih dulu menaruh sebagian uang yang telah di ambilnya dari dompet ke dua kaleng yang ia siapkan di sebelah di tungku memasaknya. Ia memasukan ke kaleng pertama, kemudian kaleng kedua. Setelah itu, ia menyerahakan uang kembalian ke pada jono.
Jono yang penasaran karena si tukang bakso menaruh uang ke dua kaleng, kemudian memberanikan diri bertanya kepada tukang bakso tersebut.
"Pak, kalau boleh saya tau… itu kaleng apa pak? Untuk celengan atau apa pak?” Tanya jono penasaran.
"Ou itu dik, iya bisa di bilang celengan” jawab si tukang bakso.
“Ko ada dua pak, untuk apa pak?” jono makin penasaran
“Iya ada dua, dua celengan akhirat saya.” Jawab si tukang bakso, kemudian ia melanjutkan dengan
“Biasanya setiap saya menerima uang dari pelangan, saya selalu mimisahkan mana yang menjadi hak saya dan mana yang saya jadikan untuk tabungan akhirat saya. “
"Yang menjadi hak saya, biasanya saya taruh dompet. Itu untuk kebutuhan saya sehari hari, membeli bahan baku untuk membuat bakso sampai dengan menghirup anak istri."
"Celengan pertama, itu saya peruntukan untuk sodakoh. Jadi setiap dari hasil pendapatan saya, sebelum saya gunakan untuk yang lainya saya peruntukan untuk sodakoh dahulu. Dari kotak ini, setiap bulan saya akan bongkar dan saya sumbangkan ke sekeliling saya. Alhamdulilah, meski tidak banyak tiap taun saya berserta keluarga bisa menymbang kambing untuk kurban. Meskipun kambing nya tidak gede gede amat"
"Celengan kedua, saya peruntukan untuk menyempurnakan rukun islam saya. Seperti kita tau, kalau kita di wajibkan untuk naik haji guna menyempurnakan keislaman kita. Dan ongkos untuk naik haji sendiri tidak murah, butuh biaya yang banyak. Untuk itu, saya beserta istri berkomitment untuk menabung sedikit demi sedikit meski hasilnya tidak banyak. Dan alhamdulilah, selama tujubelas tahun saya melakukannya, hasilnya cukup lumayan. Dua tahun yang akan datang, saya beserta istri isyaalloh akan naik haji” begitu penjelasan si tukang bakso.
Setelah percakapan dengan tukang bakso tadi, si jono kemudian jadi ternyuh. Boleh jadi si tukang bakso memiliki pekerjaan yang sederhana, pendidikan yang tidak terlalu tinggi tapi ia mampu untuk merencanakan kehidupan jauh lebih baik. Ia bahkan sudah memikirkan akhirat, jauh jauh hari. Ia berhasil memisahkan hartanya untuk sodahkoh, untuk kepentingan sesama, sebelum hartanya di belajakan.
Yang kebayakan dari kita, biasanya sodakoh merupakan duit sisa, sisa dari hasil yang kita belanjakan, itupun kalau masih ada. Ternyata, jauh lebih mulia tukang bakso dengan perencanaan keuangan yang lebih matang walau pekerjaan sederhana, daripada kita dengan keuangan yang lebih mapan, namun jarang berpikir untuk sodakoh atau kurban, apalagi berusaha untuk naik haji.






















