Pelajaran Berharga Dari Seorang Tukang Bakso

Share Article : Tweet This FB Share Email Share

oleh cerita anak kost on Sunday, August 17, 2014

Belajar dari tukang bakso | kali ini saya akan sedikit membagikan sepengal kisah mengenai tukang bakso yang barang kali bisa kita ambil manfaatnya. Cerita ini saya ambil dari salah satu kisah yang saya dapet di Televisi, menarik pula saya pikir untuk di ceritakan ulang. Karena yang namanya inspirasi dan ilmu, bisa kita peroleh darimana saja dan kapan saja, yang penting tinggal bagaimana kita untuk memanfaatkannya, dan mudah mudahan ini bisa menjadi inspirasi yang bisa untuk di ikuti.

Suatu ketika, di depan rumah jono ada seorang tukan bakso yang lewat. Merasa lapar, jono kemudian memanggil tukang bakso tersebut.

Bang bang, bakso bang.. “ pangil jono kepada tukang bakso.

pelajaran dari tukang bakso

Tak lama kemudian, tukang bakso tersebut kemudian menghampiri rumah jono untuk memarkir grobaknya, lalu ia mempersiapkan semangkuk bakso yang kemudian ia mulai meracik satu persatu bahan seperti yang sudah ia lakukan lebih dari 17 tahun yang lalu.

Singkat cerita, si jono telah menghabiskan semangkuk baksonya. Sekarang giliran ia menunaikan kewajibannya, ia melangkah untuk mengantarkan piring bakso tersebut ke tukang bakso yang masih menunggu di depan rumahnya.

Sembari mengeluarkan uang duapuluh limapuluh ribu rupiah dari dompetnya, jono membayarkan uang tersebut kepada tukang bakso.

Kemudian abang bakso menerima uang tersebut, setelah itu meletakan mangkuk yang ia terima di tempat pencucian. Lalu ia mengeluarkan dompet untuk mengambil kembalian dari uang yang ia terimanya.

Sambil memilah milah uang, sebelum ia mengembalikan uang ke jono ia telebih dulu menaruh sebagian uang yang telah di ambilnya dari dompet ke dua kaleng yang ia siapkan di sebelah di tungku memasaknya. Ia memasukan ke kaleng pertama, kemudian kaleng kedua. Setelah itu, ia menyerahakan uang kembalian ke pada jono.

Jono yang penasaran karena si tukang bakso menaruh uang ke dua kaleng, kemudian memberanikan diri bertanya kepada tukang bakso tersebut.

"Pak, kalau boleh saya tau… itu kaleng apa pak? Untuk celengan atau apa pak?” Tanya jono penasaran.

"Ou itu dik, iya bisa di bilang celengan” jawab si tukang bakso.

Ko ada dua pak, untuk apa pak?” jono makin penasaran

Iya ada dua, dua celengan akhirat saya.” Jawab si tukang bakso, kemudian ia melanjutkan dengan

Biasanya setiap saya menerima uang dari pelangan, saya selalu mimisahkan mana yang menjadi hak saya dan mana yang saya jadikan untuk tabungan akhirat saya.

"Yang menjadi hak saya, biasanya saya taruh dompet. Itu untuk kebutuhan saya sehari hari, membeli bahan baku untuk membuat bakso sampai dengan menghirup anak istri."

"Celengan pertama, itu saya peruntukan untuk sodakoh. Jadi setiap dari hasil pendapatan saya, sebelum saya gunakan untuk yang lainya saya peruntukan untuk sodakoh dahulu. Dari kotak ini, setiap bulan saya akan bongkar dan saya sumbangkan ke sekeliling saya. Alhamdulilah, meski tidak banyak tiap taun saya berserta keluarga bisa menymbang kambing untuk kurban. Meskipun kambing nya tidak gede gede amat"

"Celengan kedua, saya peruntukan untuk menyempurnakan rukun islam saya. Seperti kita tau, kalau kita di wajibkan untuk naik haji guna menyempurnakan keislaman kita. Dan ongkos untuk naik haji sendiri tidak murah, butuh biaya yang banyak. Untuk itu, saya beserta istri berkomitment untuk menabung sedikit demi sedikit meski hasilnya tidak banyak. Dan alhamdulilah, selama tujubelas tahun saya melakukannya, hasilnya cukup lumayan. Dua tahun yang akan datang, saya beserta istri isyaalloh akan naik haji” begitu penjelasan si tukang bakso.

Setelah percakapan dengan tukang bakso tadi, si jono kemudian jadi ternyuh. Boleh jadi si tukang bakso memiliki pekerjaan yang sederhana, pendidikan yang tidak terlalu tinggi tapi ia mampu untuk merencanakan kehidupan jauh lebih baik. Ia bahkan sudah memikirkan akhirat, jauh jauh hari. Ia berhasil memisahkan hartanya untuk sodahkoh, untuk kepentingan sesama, sebelum hartanya di belajakan.

Yang kebayakan dari kita, biasanya sodakoh merupakan duit sisa, sisa dari hasil yang kita belanjakan, itupun kalau masih ada. Ternyata, jauh lebih mulia tukang bakso dengan perencanaan keuangan yang lebih matang walau pekerjaan sederhana, daripada kita dengan keuangan yang lebih mapan, namun jarang berpikir untuk sodakoh atau kurban, apalagi berusaha untuk naik haji.

drieant Cerita Anak Kost Updated at: Sunday, August 17, 2014

{ 8 komentar... read them below or add one }

Lucky Eno Marchelin said... Reply Comment

menohok banget, apalagi yang : "Biasanya setiap saya menerima uang dari pelangan, saya selalu mimisahkan mana yang menjadi hak saya dan mana yang saya jadikan untuk tabungan akhirat saya. “

Samsul Bahri said... Reply Comment

Subhanallah, luar biasa banget, Sebuah pelajaran dan peringatan yang sangat - sangat berharga.

Kang Muroi said... Reply Comment

subhanallah , pelajaran yangs angat berharga ini mas, semangat dan ulet serta tidak pelit untuk bersedekah...

nanti ada ceritanya tukang bakso naik haji hehe....

eksak said... Reply Comment

.tukang bakso teladan! semoga dipilemkan .. *eh

zach flazz said... Reply Comment

saya berintrospeksi untuk hal ini. keren dan menginspirasi. pelajaran untuk skala prioritas saya.

elang wicakso said... Reply Comment

memang hakikatnya kan sebagian harta kita adalah untuk di sodaqohkan :)

Tuvli Hadi said... Reply Comment

sungguh sepaptutnya kita mau belajar dari apa dan siapapun, sebab kebaikan bisa datang dari walaupun sekedar tukang bakso.

semoga mang baksonya di bahagiakan dan diberkahkan hidupnya dan keluarganya...aaamiiiin

Yuliono Gundul said... Reply Comment

subhanallah, saya baca secara pelan pelan rasanya merinding betapa mulianya niatan bapak tukang bakso semoga cita citanya selalu diberi jalan oleh Allah. Aamiin

Post a Comment